Jumat, 19 April 2013

Riadussolihin



         Pada suatu hari  disiang nan cerah, ada seorang pria dewasa berambut hitam panjang, berencana untuk pergi memangkas rambut di suatu tempat yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Selang beberapa saat ia menemukan tempat  pangkas yang  dimaksud dan segera menghampirinya. Tanpa banyak berpikir panjang, diapun masuk dan duduk di kursi tempat pemangkasan rambut  yang telah tersedia. Akhirnya, tak lama berselang terjadi dialog serius antara keduanya.
Tukang Pangkas: Oh ya! tahu tidak mas, saya itu kurang yakin dan percaya yang nama adanya tuhan.
Yang dipangkas : Lah kenapa mas? (sedikit agak bingung)
Tukang pangkas: Coba Anda perhatikan di jalanan sana, kenapa begitu banyak orang yang harus hidup dari belas kasih orang lain, tidur di kaki lima pertokoan, berbaju sehelai itu saja dari dulu, sampai akhirnya dia harus menghembuskan napas terakhir disana juga. Lalu apakah itu pertanda tuhan itu masih ada?
Yang dipangkas: (Sejenak ia terdiam, tak lama setelah itu lewat seseorang berambut gondrong disamping mereka). Kalau begitu saya juga tidak percaya kalau tukang pangkas rambut itu ada.
Tukang pangkas: Maksud kamu, emang kamu nggak nglihat aku sebesar ini ada di dekat mu, jangan bercanda dech kamu. Aku lagi berbicara serius ini.
Yang dipangkas: (Dengan tenang dia menjawab)  saya juga lagi berbicara serius, tadi Anda bilang si rambut gondrong nggak datang kepada mu, makanya dia masih saja berambut panjang
Tukang pangkas: Lah iya! lalu apa hubungannya sama saya? Anda semakin lama, semakin nggak nyambung dech kalau berbicara.
Yang dipangkas: Jawabanya sudah Anda temukan disana.
Tukang pangkas: Jawaban yang mana?
Yang dipangkas: Si rambut gondrong tidak datang kepada Anda, begitu juga kenyataan yang banyak terjadi sekarang ini dalam kehidupan kita. Banyak orang yang sibuk pontang-panting mencari rizki, senggol sana-senggol sini, tapi sayangnya banyak orang yang tidak menyadari terhadap apa yang sebenarnya ia lakukan. Mereka hanya bisa berbuat saja, tanpa diiringi dengan menengadahkan tangan pada Sang Illahi untuk keberqahan dari rizki yang di dapat. Kalau keberqahan sudah di dapat, niscaya semuanya akan terasa nikmat. Saya juga mau menanyakan pada Anda. Apakah Anda benar-benar sudah memperhatikan dari semua sisi kehidupannya?
Tukang Pangkas: Tidak juga pak, saya cuma sekilas memperhatikan ketika lagi lewat-lewat disana.
Yang dipangkas: Lah! apalagi itu, bisa jadi mereka hanya memamfaatkan keadaan yang ada, karena tak jarang begitu banyak orang yang menjadikan pengemis sebagai mata pencaharian sambilan. Lagian pula menurut saya, kita juga tak sewajarnya memberikan mereka uang, karena semakin membuat mereka malas untuk bekerja, kecuali mungkin teruntuk buat mereka yang sudah tak mampu beraktifitas, seperti kaki atau tangannya diamputasi, buta, dan lain-lain sebagainya.
Tukang Pangkas: Oooh! gitu ya mas.

Kesimpulan; Cerita ini sebagai bahan rujukan buat kita semua, bahwa dalam hidup ini kita tidak cukup hanya dengan berusaha saja tanpa berdoa, apalagi jika berdoa saja tanpa dengan berusaha. Keduanya saling terkait dan membutukan. satu lagi yang terpenting dalam hidup ini yaitu berharap, janganlah mau bernegoisasi dengan rasa pesimis, akan tetapi selalu berharap dan bermimpi, bahwa semua jalan yang akan kita lalui pasti memiliki cahaya terang. Jika ketiganya sudah ada dalam diri kita yaitu usaha, doa dan harapan (USDOPAN), maka perhatikanlah apa yang akan terjadi !.

1 komentar :

  1. Bagus, dari isi bacaan dan desainnya, bulih haja lo u blajar nu v, :) hehehe,
    kunbalnya laah

    http://tugas-produktif-by-faisal.blogspot.com/2013/04/cara-menggunakan-recuva.html

    BalasHapus